Kontribusi Pendidikan Islam, Seperti Apa?

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pendidikan Islam di Indonesia saat ini dinilai sebagai lembaga pendidikan yang paling modern di dunia. Melalui pendidikan Islam inilah karakter keberagaman masyarakat Indonesia yang toleran dan moderat dibentuk.

“Nuansa wasathiyah adalah penopang nya. Ruh keislaman ini disebarkan melalui pondok pesantren, perguruan tinggi, madrasah dan seterusnya,” ujar Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof Kamaruddin Amin.

Namun, akhir-akhir ini pendidikan Islam Indonesia tengah menghadapi tantangan pemahaman keagamaan yang datang dari luar, khususnya pemahaman yang yang radikal dan ektrem. Pemahaman keagamaan tersebut mulai mencoba merasuki lembaga pendidikan Islam.

Prof Kamaruddin mengatakan, radikalisme dan ekstremisme sejatinya adalah konsekuensi dari adanya globalisasi dan per kem bangan teknologi informasi. Namun, permasalahan itu direspons oleh pemerintah Indonedia.

Untuk mengatasinya, menurut dia, Kementerian Agama tengah gencar mempromosikan moderasi beragama, yang merupakan konter terhadap narasi radikalisme dan ekstremisme tersebut. Berikut wawancara lengkap wartawan Republika, Muhyiddin bersama Prof Kamaruddin Amin di Gedung Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Bagaimana dengan perguruan tinggi Islam?

Masyarakat kita mempunyai antusiasme dan kepercayaan yang semakin tinggi kepada perguruan tinggi Islam. Kita lihat itu dari peminatnya yang begitu membeludak luar biasa.

Dari sisi kualitas, cukup signifikan juga kemajuannya. Bisa diukur, misalnya dari perguruan tinggi kita itu sudah ada tujuh Perguruan Tinggi Islam yang akreditasi kelembagaannya A, yaitu UIN Jakarta, UIN Malang, Surabaya, Makassar, Bandung, Semarang, dan UIN Yogyakarta. Artinya itu perguruan tinggi papan atas Indonesia karena dia sudah akreditasi A.

Apa kontribusi pendidikan Islam bagi masyarakat Indonesia?

Yang paling fundamental adalah kontribusi lembaga pendidikan kita dalam membentuk karakter keberagamaan Islam Indonesia. Karena, pendidikan itu adalah instrumen yang paling kuat dan strategis dalam meningkatkan moderasi beragama.

Misalnya, kita lihat Indonesia memiliki artikulasi keberagamaan Islam yang toleran, yang demokratis, inklusif, dan seterusnya. Itu tidak bisa dilepaskan dari lembaga pendidikan Islam. Lembaga pendidikan Islam berkontribusi paling fundamentaal membentuk karakter artikulasi keberagamaan seperti ini.

Jadi, kalau bukan karena lembaga pendidikan Islam, kita tidak tahu bagaimana karakter artikulasi Islam Indonesia. Saya pun selalu mengatakan bahwa pasti ada korelasi yang sangat signifikan dan fundamental antara karakter keberagamaan sebuah bangsa dan karakter lembaga pendidikannya. Banyak contoh yang bisa kita lihat.

Kita lihat, misalnya, di Pakistan dan In dia, di sana juga tidak bisa dilepaskan dari lembaga pendidikan Islam-nya. Begitu juga di Arab Saudi, Iran, Turki, dan negara-negara Islam lainnya atau negara yang mengklaim sebagai negara Islam. Jadi, karakter keberagamaan di negara-negara itu sangat terkait dengan karakter kajian studi Islam yang ada di negara itu.

Indonesia memiliki karakter keberagaman moderat, wasathiyah, toleran, dan sebagainya itu karena kontribusi pendidikan Islam, mulai dari pondok pesantren, perguruan tinggi, madrasah dan seterus nya. Lembaga pendidikan Islam juga telah banyak melahirkan ulama, sarjana, ilmuwan.

Ada juga yang menjadi penceramah atau mubaligh dalam kehidupan masyarakat sehingga dapat membentuk karakter keberagamaan Islam Indonesia sekarang ini. Jadi, itu kontribusi yang palig fundamental menurut saya yang harus terus diafirmasi, harus terus didukung, dan harus terus ditingkatkan.

Oleh karena itu, Indonesia adalah pusat moderasi Islam dunia, itu karena lembaga pendidikan itu. Dan, sekarang ini saya kira Indonesia sedang dilirik oleh dunia Inter nasional karena Indonesia memiliki karakter wasathiyah itu tadi. Nah, ini yang harus terus menerus kita bina.

 

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/ptx699313/kontribusi-pendidikan-islam-seperti-apa

author

Author: