Dugaan Pencemaran Nama Baik, Berujung Damai Di APH.

VoiceBengkulu.Com .Bengkulu Utara – Ketua Aliansi LSM-Bengkulu mengingatkan berhati-hati dalam Kehidupan sosial manusia di era internet ini dapat dikatakan semakin mudah. Keberadaan media sosial dalam genggaman membuat interaksi antara satu orang dengan yang lainnya bak tidak terpisahkan oleh jarak. Jarak ribuan kilometer yang memisahkan bukanlah penghalang bagi manusia untuk saling terhubung satu sama lain.

Apa lagi populasi Indonesia yang kini mencapai 265,4 juta jiwa, setengah di antaranya telah menggunakan internet,

Pesatnya penggunaan media sosial telah memengaruhi cara berpikir kita terhadap teman, kenalan, serta orang asing. Selama ini kita memiliki jaringan sosial yang terdiri atas keluarga dan teman dalam lingkaran sosial. Kehadiran media sosial dalam lingkup teknologi membuat jaringan sosial tersebut menjadi membesar dan berbeda dibanding sebelumnya.

Media sosial membuat orang “masuk” ke dalam jaringan tersebut dengan cara yang sangat mudah dan cakupan yang lebih luas. Salah satu perbedaan terbesar antara jaringan sosial tradisional dengan media sosial adalah batasan-batasan antara ruang privat dengan publik, antara sekolah dengan rumah atau pekerjaan dengan rumah, menjadi kabur.

 

Hubungan antar manusia yang kian mendekat kendati jarak dipisahkan hingga ribuan kilometer antara satu dengan yang lainnya juga memiliki efek negatif. Seperti kasus Cuitan baru-baru ini terjadi terhadap Lembaga Swadaya masyarakat (LSM) di kabupaten Bengkulu Utara. Melalui sebuah pemberitaan di media online kabar Daerah, Berujung Damai di Aparat Penegak Hukum (APH) Polres kabupaten Bengkulu Utara Selasa 19 Mei 2020. Gara-gara saling balas komentar di media sosial.

 

“Yang pasti adalah, kita sedang menghadapi masalah perubahan pola interaksi sosial antar masyarakat melalui media sosial. Kita sedang dalam masa transisi pola interaksi sosial itu, hendaknya lebih berhati-hati jelas Ketua Aliansi LSM-Bengkulu” Rozi, HR.

 

author

Author: